01/05/2025


Banjarmasin – Mahasiswa Program Studi (PS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali meraih prestasi penulisan karya sastra tingkat nasional. Setelah sebelumnya menjadi juara ke-3 lomba cerpan Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) yang diadakan Ditjen Belmawa Kemdikbudristek pada 2024 dan juara pertama lomba cerpan Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-21, Risma Liyanti kembali meraih juara pada lomba penulisan karya sastra yang diadakan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Gorontalo. Bersama Shinta Salsa Bella, mahasiswa PS PBSI FKIP ULM yang pada 2024 juga menjadi juara 1 lomba penulisan naskah lakon Pekan Seni Mahasiswa Tingkat daerah (Peksimida), menjadi juara 1 lomba penulisan karya sastra. Risma menjadi juara 1 lomba penulisan cerpen dan Shinta menjadi juara 1 lomba penulisan naskah lakon.
Naskah lakon Shinta berjudul “Kursi Mutilasi” merupakan naskah lakon surealis yang menceritakan tentang Tidas, seorang calon pejabat yang menginginkan sebuah ‘kursi’, sebuah simbol kekuasaan. Namun, ‘kursi’ yang diinginkan tokoh Tidas tidak dapat diraih begitu saja. Oleh karena itu, tokoh Tidas memanipulasi tokoh-tokoh lainnya untuk membantunya mendapatkan ‘kursi’. Akan tetapi, karena kecurangannya sendiri tokoh Tidas mendapatkan balasan setimpal akibat perbuatannya dari tokoh Neraca, yang merupakan simbol ‘Tuhan’ di dunia.
Sementara itu, naskah “Pohon Ulin” yang mengangkat ketegangan antara tradisi dan modernitas bercerita tentang Aman, seorang pemuda yang masih menggantungkan hidupnya pada orang tua. Suatu ketika, ayahnya mengalami kejadian aneh selepas menebang pohon ulin besar yang ada di dekat rumahnya. Ayahnya yang pekerja keras tiba-tiba sering lupa dengan anak dan istirnya sendiri, suka menangis atau berteriak sendiri, hingga bertindak seperti anak kecil. Ibu Aman percaya bahwa sang suami sudah terkena wisa (racun gaib) akibat menebang pohon ulin itu. Namun Aman bersikeras bahwa kejadian itu pasti memiliki penjelasan medis. Konflik terjadi saat itu hingga mereka memilih untuk mencoba jalan masing-masing.
Menurut Risma dan Shinta, kemenangan mereka ini merupakan bagian dari perjalanan kreatif mereka yang belum selesai dan harapannya masih akan terus berlanjut. Dengan mengucap rasa syukur, keduanya menjadikan momentum kemenangan ini sebagai pengingat untuk terus berkarya dan terus berkontribusi dalam dunia susastra Indonesia.
Selamat kepada para pemenang, semoga terus mengukir prestasi dan menjadi inspirasi bagi yang lain. (admin)