20/01/2024

Banjarmasin – Unit Pembantu Akademik (UPA) P2KPK (Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bekerja sama dengan Program Studi (PS) Pendidikan Ekonomi (Penko) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM menggelar Konferensi Internasional 1st ICECPA (International Conference of Educational and Cultural Policy Analysis) yang dilaksanakan secara daring pada Senin, 20/01 melalui aplikasi pertemuan daring zoom mulai pukul 09.00-17.00 WITA. Seminar yang digelar perdana ini mengambil tema Innovation and Collaboration for Sustainable Wetland Management in Supporting Global Development.
Acara dibuka oleh Ketua P2KPK ULM, Baseran dan dihadiri sejumlah Pembicara Kunci (Keynote Speaker) dalam dan luar negeri seperti Muhammad Ridhwan Saleh dan Narina Zubir dari Universitas Islam Internasional Malaysia; Guru Besar PS Penko FKIP ULM, Suratno; dosen FKIP ULM yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral/ Ph.D. , Yusuf Al Arief dan Benny Mahendra; Agung Waskito dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM; serta Herry Irwansyah dari Fakultas Teknik ULM. Sejumlah dosen FKIP ULM lainnya juga menjadi pembicara tamu dalam konferensi ini diantaranya Raisa Fadilla, Muhammad Rahmattullah, Sayidah Mahtari, Rizky Febriyani Putri, Arum Murdianingsih, Ananda Setiawan, Muhammad Najamudin, Ratna Yulinda, Yasmin Khairunnisa, Nurul Hidayati Utami, Wisnu Subroto, Baseran, Muhammad Rezky Noor Handy, Syaripudin Bahar, Sharfina Putri Amima, Rizal Iskandar, Mahmudah Hasanah, Muzdalifah, Sauqina, dan Meitria Syahadatina Noor.
Salah satu pembicara kunci, Suratno, dalam makalahnya yang berjudul Policy Analysis: Improving Efficiency in the Educational System of South Kalimantan Wetland Areas menjelaskan bahwa terdapat sejumlah inefesiensi dalam kebijakan pendidikan di area lahan basah Kalimantan Selatan. Inefesiensi itu meliputi (1) kesalahan alokasi sumber daya, (2) tantangan geografis dan lingkungan, (3) praktik pengajaran yang kadaluwarsa, (4) tata kelola yang terlalu tersentralisasi, dan (5) tantangan tenaga guru. Terkait masalah tersebut, ia memberikan sejumlah rekomendasi solusi, diantaranya (1) memperluas infrastruktur digital: lengkapi sekolah dengan alat digital bertenaga surya dan platform pembelajaran offline untuk mengatasi tantangan konektivitas, (2) berinvestasi dalam pengembangan guru: ciptakan program pengembangan profesional yang kuat untuk pengajaran adaptif di lahan basah; (3) mendorong tata kelola pemerintahan yang terdesentralisasi: memberdayakan pemerintah daerah untuk membuat keputusan yang disesuaikan dengan konteks unik lahan basah Kalimantan Selatan, dan (4) memanfaatkan analisis data: gunakan data untuk pemantauan berkelanjutan dan untuk menginformasikan penyesuaian kebijakan khusus pada kawasan lahan basah.
Menurut Baseran, konferensi ini direncanakan menjadi agenda per-2 tahunan UPA P2KPK. “Selain sebagai wadah untuk kolaborasi para peneliti dalam dan luar negeri, kegiatan ini juga sebagai wahana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mempresentasikan hasil penelitiannya. Ada 189 presenter dan peserta non presenter sebanyak 82 orang. Dengan demikian 271 orang mengikuti konferensi ini. Kami mengusahakan agar semua artikel masuk bisa prosiding internasional,” ujarnya. (admin)