Rayakan Dies Natalis ke-23, JBK FKIP ULM Gelar Rangkaian Acara: Seminar Hingga Pementasan Drama

09/07/2026

Foto Bersama (doc. Panitia)

Banjarmasin – Jurusan Bimbingan dan Konseling (JBK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada Kamis, 09/07 memperingati hari kelahirannya pada perayaan Dies Natalis ke-23 JBK FKIP ULM. Kegiatan ini dilaksanakan secara meriah di General Theatre Building ULM mulai pukul 09.00 WITA. Acara dibuka oleh Ketua JBK FKIP ULM, Nina Permata Sari dan dihadiri sejumlah tamu undangan diantaranya Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Kalimantan Selatan, Wasimin; Ketua Unit Pengelola Akademik (UPA) Bimbingan Konseling (BK) ULM, Ririanti Rachmayanie Jamain; Ketua Unit Pengelola Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (UPKH) FKIP ULM, Emma Rosana Febriyanti dan tim UPKH; serta dosen dan mahasiswa JBK FKIP ULM.

Kegiatan ni memiliki sejumlah rangkaian acara diantaranya seminar nasional yang menghadirkan narasumber Ketua BGTK Kalsel sekaligus penandatangan dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation of Arrangement (IA) antara BGTK Kalsel dan FKIP ULM; penampilan berbagai pertunjukan seni mahasiswa JBK angkatan 2024 dan2025; penampilan biantang tamu dari Interval Acoustic; serta yang tak kalah menarik, penampilan Drama Kabaret “Dilan Milea” oleh dosen JBK.

Penandatangan Dokumen Kerja Sama (doc. Nahdia)

Kepala BGTK Kalsel, Wasimin pada kesempatan ini menyampaikan materi mengenai “Membangun Kesehatan di Era Digital”. Menurutnya, pembangunan masyarakat yang sehat secara mental dan inklusif adalah tanggungjawab bersama di antara individu, keluarga, dan komunitas. Kesehatan mental adalah salah satu hal yang sangat penting dalam membangun hal tersebut. Resiliensi mental menjadi penting karena teknologi yang begitu masif hari ini dapat memicu connected loneliness (kesepian di tengah keramaian maya); akses data tanpa batas juga bisa memicu digital fatigue atau kelelahan akibat interaksi terus-menerus dengan dunia digital; serta rentannya cyber-bullying (perundungan digital), FOMO (Fear of Misiing Out) atau ketakutan tidak ikut tren, serta perbandingan sosial yang destruktif. Solusi yang dapat diterapkan pendidik mengatasi hal ini menurutnya antara lain penerapan digital boundaries (batasan digital), mempraktikkan self-care (perawatan diri) dan mindfullness (perasaan kesaat-inian); serta menjadi teladan digital. (Admin)

Para Pemain Drama Kabaret “Dilan Milea” (doc. Panitia)