05-07/08/2026

Jakarta – Dosen sekaligus Guru Besar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (JPBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Kalimantan Selatan (Kalsel), Rusma Noortyani menghadiri Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara (LISAN XIII) yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Rabu-Jumat/ 05-07/08.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat ini mengangkat tema “Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan.” Forum ini menjadi ruang akademik dan kebudayaan untuk mempertemukan para akademisi, peneliti, pemerhati budaya, serta pelaku tradisi lisan dalam membahas keberadaan dan keberlanjutan tradisi lisan Nusantara. Keikutsertaan Pengurus ATL Kalsel dalam kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi akademisi ULM dalam memperkuat kajian bahasa, sastra, dan budaya, khususnya tradisi lisan yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Partisipasi tersebut juga membuka ruang bagi pertukaran gagasan dan pengalaman mengenai upaya menjaga tradisi lisan agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Bagi bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tradisi lisan memiliki posisi penting karena tidak hanya berkaitan dengan praktik kebudayaan, tetapi juga menyimpan kekayaan bahasa, sastra, pengetahuan lokal, nilai, serta identitas masyarakat. Karena itu, pengkajian dan pelestarian tradisi lisan memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pendidikan bahasa dan sastra berbasis budaya. Keikutsertaan dosen JPBSI FKIP ULM diharapkan semakin memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat kontribusi ULM dalam pengembangan kajian tradisi lisan Nusantara. Forum internasional seperti LISAN XIII juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lisan Kalimantan Selatan dalam ruang akademik dan kebudayaan yang lebih luas.
Seminar Internasional LISAN XIII merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang lebih luas. Selain seminar internasional, kegiatan juga mencakup Musyawarah Nasional dan Diskusi Kelompok Terpumpun, pelatihan penulisan populer tradisi lisan, Festival Tradisi Lisan Nusantara, festival film, peluncuran buku, serta pameran buku dan film. Melalui forum tersebut, tradisi lisan ditempatkan tidak semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai warisan budaya takbenda yang memiliki peran dalam merawat kemanusiaan, alam, dan kehidupan sekaligus membangun hubungan antara masa lalu dan masa depan.
Menurut Rusma, keikutsertaan Pengurus ATL Kalsel dalam forum ini untuk mengingatkan bahwa warisan budaya Kalimantan Selatan tetap hidup dan memiliki tempat di masa depan. “Dalam kesempatan tersebut tiap provinsi memaparkan program kerja yang sudah dilaksanakan dan program akan datang. Tradisi lisan bukan sebagai identitas yang menghubungkan generasi. Karena itu, di Munas ini sebagai bagian dari tanggung jawab ATL Kalsel untuk menjaga, memperjuangkan, dan mewariskan kekayaan tradisi lisan kepada generasi berikutnya. Dengan keterlibatan tersebut, kami berupaya terus mengambil bagian dalam upaya penguatan kajian bahasa dan sastra yang berakar pada kekayaan budaya Nusantara, sekaligus mendorong agar tradisi lisan tetap menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi generasi masa kini dan masa mendatang,” ujarnya. (Admin)
