Seminar and Performances on Banjarese Local Wisdom, Ajang Unjuk Kreativitas Mahasiswa PS PBI FKIP ULM

11-12/06/2025

Penyerahan Kenang-Kenangan untuk Narasumber

Banjarmasin – Program Studi (PS) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk Seminar and Performances on Banjarese Local Wisdom yang digelar dengan meriah selama dua hari. Melalui rangkaian seminar dan pertunjukan seni ini, seluruh peserta diajak mengenal dan juga menghargai budaya Banjar dalam perspektif pembelajar bahasa Inggris. Acara ini juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus momen untuk mendekatkan generasi muda dengan kekayaan tradisi lokal Banjar secara lebih mendalam.

Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 11-12 Juni 2025 mulai pukul 09.00 WITA dengan lokasi acara yang berbeda. Hari Pertama diselenggarakan di Aula Hasan Bondan FKIP ULM, dan hari kedua diselenggarakan di Lapangan Tumpang Lima FKIP ULM. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 75  peserta yang terdiri dari mahasiswa semester dua hingga enam, dosen, dan peserta umum dari luar PS PBI FKIP ULM. 

Kegiatan hari pertama merupakan unjuk penampilan mahasiswa dalam upaya untuk melestarikan kebudayaan Banjar. Penampilan mahasiswa ini tidak hanya menjadi hiburan edukatif, tetapi juga merupakan bagian dari penilaian proyek akhir mata kuliah “English for Banjarese Local Wisdom”. Acara kemudian dilanjutkan dengan seminar bertemakan “Banjarese Songs as Cultural Preservation”.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Sirajudin, seorang seniman dan tokoh masyarakat Kalimantan Selatan yang aktif dalam dunia musik Banjar sekaligus pencipta lagu Baras Kuning. Beliau menyampaikan materi mengenai makna dan esensi musik Banjar. Beliau menjelaskan bagaimana musik Banjar diciptakan, mulai dari struktur notasi, alat musik tradisional, makna lirik, hingga tujuan dan latar belakang penciptaan lagu. Menurutnya, musik Banjar adalah bentuk ekspresi budaya yang sarat nilai dan harus terus dilestarikan. Narasumber kedua adalah Ridho Amalia, Kepala Sekolah SDN 1 Sungai Besar dan juga pengurus Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Ia menjelaskan pentingnya generasi muda untuk mengenal dan melestarikan lagu daerah. Beliau mengingatkan bahwa gempuran budaya luar telah menyebabkan pergeseran minat terhadap kesenian lokal, termasuk di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, laguBanjar perlu lebih diperkenalkan agar tidak hilang.

Suasana Seminar

Hari kedua kembali diisi dengan unjuk penampilan oleh mahasiswa. Diantaranya penampilan tarian tradisional Banjar seperti Tari Radap Rahayu, Tari Topeng Banjar, dan Tari Japin Banjar. Selain tari, juga ditampilkan storytelling cerita rakyat Banjar “Raja Patmaraga dan Sukmaraga” serta “Luhuk Badangsanak”, pembawaan lagu-lagu tradisional Banjar seperti “Baras Kuning”, “Anak Pipit”, dan “Ampar-Ampar Pisang”. Mahasiswa juga menampilkan acara berpantun menggunakan peribahasa dalam bahasa Banjar.

Di tengah perkembangan zaman, acara ini menjadi kesempatan penting untuk mengajak mahasiswa lebih mengenal dan mencintai budaya lokal Banjar. Harapannya, mereka bisa menjadi generasi penerus yang ikut melestarikan dan memperkenalkan budaya daerah. Ketua pelaksana kegiatan, David Christian Pardede, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara ini. “Bagi saya, proyek English for Banjarese  Local Wisdom 2025 ini sangat berkesan. Di hari pertama kami mendapatkan materi dari narasumber-narasumber yang sangat berkualitas dalam membahas dan memandang seni musik Banjar. Tidak hanya itu, saya juga terpukau dengan penampilan teman-teman saya yang sangat melebihi ekspektasi. Sangat menyenangkan melihat antusiasme mereka dalam meramaikan proyek ini,” ungkapnya. (Admin)

Kontrubutor artikel: Hana Awreliya