25/09/2025

Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sukses menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Building Harmony Multicultural Insight of Southeast Society for Student” pada Kamis, 25/09 secara bauran. Acara diadakan di Student Activity Centre ULM mulai pukul 09.00 WITA dan melalui pertemuan virtual Zoom. Seminar ini menghadirkan narasumber dari tiga negara yaitu Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Kalimantan Selatan, Indonesia, Mujiburrahman, Nola Fibriyani BTE Salman dari Muhammadiyah Islamic College, Singapura, dan Associate Professor Sultan Idris Education University, Malaysia, Samsudin Suhaili. Acara dibuka oleh Dekan FKIP ULM, Sunarno Basuki dan dihadiri Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP ULM, Rochgiyanti; dosen dan mahasiswa dari pendidikan sosiologi FKIP ULM; dan di ruang pertemuan daring, hadir mahasiswa dari University of The Immaculate Conception, Filipina; mahasiswa dari Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaysia; dan mahasiswa dari Muhammadiyah Islamic College, Singapura.
Dalam sambutan pembukaannya, Sunarno Basuki menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar peserta bisa mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari seminar internasional ini. Setelah pembukaan, para narasumber menyampaikan materi mengenai wawasan multikultural serta tantangannya di masa kini, Mujiburrahman menyoroti dinamika dan tantangan multikulturalisme di masyarakat Asia Tenggara. Menurutnya, di Indonesia, slogan nasional yang terkenal yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda tetapi tetap satu, merupakan prinsip dasar dalam multikulturalisme. “Perbedaan harus diakui dan dihormati, tetapi pada saat yang sama titik temu di antara perbedaan itu juga harus diteguhkan,” ujarnya bijak.
Sementara itu, Nola Fibriyani menjelaskan bahwa saat ini, Singapura berkonsentrasi untuk menguatkan keharmonisan agama dengan berbagai cara ini termasuk: kebijakan perencanaan kota, organisasi keagamaan undang-undang. Di sisi lain, Samsudin suhaili mengidentifikasi bahwa pelajar di Asia Tenggara hidup dalam konteks keragaman yang amat tinggi. Dalam pandangannya, tanpa kesadaran multikultural yang mendalam, pelajar berisiko gagal memahami realitas sosial masyarakat mereka sendiri.
Salah satu tamu undangan, yang juga merupakan Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS, Jumriani menyatakan, seminar internasional ini memberikan kesan dan membuka wawasannya bahwa untuk membangun multikultural bukan hanya dengan mengenali keberagaman, tetapi juga mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama. Diskusi mengenai peran berbagai aktor dalam menghadapi globalisasi dan dinamika digital menegaskan tanggung jawab besar generasi muda. “Dari pemateri internasional, saya memperoleh perspektif beragam tentang cara negara-negara di Asia Tenggara menghadapi tantangan multikultural dengan pendekatan berbeda. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas budaya, pemanfaatan ruang digital secara positif, dan penguatan literasi multikultural untuk mewujudkan masyarakat harmonis” katanya.
(Kontributor tulisan: Cucu Widaty)
(Admin)
